City Gentrification : Ihwa Mural Village di Seoul




Salah Satu Sudut "Korban" Gentrification di Ihwa Mural Village

Gentrification:
/ˌjentrəfəˈkāSH(ə)n/
noun
the process of renovating and improving a house or district so that it conforms to middle-class taste.


Sejujurnya, saya menemukan istilah Gentifikasi ini bukan dari jaman saya kuliah S1 Planologi dulu, namun karena menonton salah satu drama Korea-yang saya lupa judulnya (Told you, we learnt lot from K-drama).  Kebetulan salah satu studi yang diangkat adalah tentang proses gentrifikasi kawasan Bukchon Hanok Village-kawasan yang masih memiliki banyak rumah dengan arsitektur asli Korea (atau yang biasa disebut Hanok) untuk menjadi kawasan konservasi.


Bukchon Hanok Village, merupakan salah satu kawasan yang berhasil -terlepas itu beneran gentrifikasi atau bukan-karena source of study saya sangat tidak scientific, K-drama, karena itu saya ingin mengangkat salah satu kawasan lain yang sempat populer di Seoul, Ihwa Mural Village.

Penggila Korea drama pasti mengenali tempat ini karena beberapa kali dijadikan lokasi syuting-dengan adegan sang protagonis cowo menggendong cewe mengarungi puluhan tangga ke atas.  Berasal dari kawasan shooting yang akhirnya menarik minat orang-orang dari seluruh belahan dunia untuk mengunjungi kawasan ini. 

Awalnya, gentrifikasi ini mulai dilakukan pada tahun 2006 yang dilakukan oleh Profesor-profesor seni dan relawan mahasiswa dalam project Kementrian untuk mengembangkan kawasan kumuh menjadi kawasan wisata dengan atmosfer unik, menggunakan alokasi dana sebesar KRW 250 juta (IDR 3 Miliar)



Tangga yang Menjadi Saksi Syuting K-drama
Kemudian bermuncullah mural-mural lucu di tembok rumah, atau sticker smile di tiang listrik, lukisan 3D di anak tangga dan perlahan berkembang menjadi cafe-cafe imut yang menjual kopi dan snacks (yang menyediakan tempat duduk yang tidak banyak). Kemudian mulai bermunculan souvenir shops,  toilet umum sampai dengan motel.
Cute Cafe di Jalan Utama Ihwa Mural Village

Perlahan, 'Kampung' tersebut mulai cantik dan pengunjung yang datang semakin banyak. Tidak hanya warga lokal, warga internasional berdatangan, penasaran untuk mengabadikan diri di fotogenic spot yang sebelumnya telah terupload oleh banyak netizen di instagram. Kampung yang semula tenang karena wilayah pemukiman, menjadi kawasan yang 'aktif'. Perekonomian sekitar mulai menggeliat baik karena perdagangan maupun pariwisata.

Mural 3D di salah satu sudut tembok
Menilik pada definisi Gentrifikasi sendiri- mungkin dulunya kita menamakannya sebagai revitalisasi. Gentrifikasi sendiri tidak spesifik pada kawasan 'tertentu' seperti kawasan kota tua, sejarah, etc. Dalam kasus Ihwa Mural Village sendiri, kawasan inilah pemukiman asli warga Seoul. Rumah-rumah berjejer rapi, hampir tanpa halaman pada kontur tanah yang berbukit-bukit. Dulunya, tidak ada yang spesial pada 'kampung' ini layaknya kampung-kampung lain di Korea Selatan. Anak tangga panjang yang sering dijadikan syuting itu pun bisa sering dijumpai di kawasan manapun yang berbukit.
Hall of Fame K-Drama yang syuting di Ihwa Mural Village

Gentrifikasi ini menjadi spesial tentu karena 'promosi' melalui film maupun sosial media. Padahal di belahan dunia manapun, begitu banyak kota-kota yang mulai menerapkan konsep yang serupa. Di Indonesia, Gentrifikasi bisa dilihat di Kampung Warna-warni Jodipan, Malang atau Semarang, karena 'fitrah'nya gentrifikasi ini adalah mempercantik kembali suatu kawasan agar tidak terlihat kumuh, efek yang ditimbulkan adalah suatu bonus.

Walikota Seoul, atau kota-kota besar di Korea Selatan seperti Busan, menggarap serius proyek Gentrifikasi ini karena (mungkin) misi negara ginseng ini menjadi destinasi wisata pilihan turis mancanegara, mengingat pariwisata menjadi salah satu andalan pertumbuhan perekonomian Negara ini beberapa tahun terakhir.

Salah Satu Spot Wajib Foto
Qouting dari salah satu surat kabar lokal, Korea Herald ; Di tahun 2015, Dalam rangka Gentrifikasi, Pemerintah Kota Metropolitan Seoul menginjeksi sekitar KRW 20 Billion (sekitar IDR 260 Miliar) di 6 area dan membangun "Anchor Facility" di setiap area untuk menyediakan ruang sewa murah bagi para enterpreneurs. 

Keseriusan Pemerintah Seoul ini, menyediakan bangunan dengan 'sewa murah' menjadi masuk akal karena harga sewa bangunan di Seoul sangat tinggi sehingga sulit bagi enterpreneur pemula untuk memulai bisnis di daerah-daerah yang telah di-gentrifikasi oleh Pemerintah. Sebagai informasi, Pemerintah Korea Selatan juga mengalami tantangan yaitu sebagian besar anak muda yang enggan menjadi enterpreneur-dan memilih menjadi pegawai institusi besar. Padahal, perekonomian Korea Selatan melesat karena industri manufaktur yang diinisiasi oleh jiwa-jiwa enterpreneur generasi sebelumnya.

Terlepas dari keseriusan pemerintah Korea menggarap Gentrifikasi, alasan mengapa saya memilih (dan mengunjungi) Ihwa Mural Village adalah karena di tempat ini, kita bisa melihat dampak positif dan negatif dari Gentrifikasi.

Setelah menjadi sangat populer beberapa tahun yang lalu, arus turis yang tak terbendung membuat kawasan yang semula tenang menjadi berisik. Beberapa warga mulai terganggu dengan kebisingan, mulai mengecat kembali mural menjadi warna dasar sebagai bentuk protes. Bahkan, beberapa warga sempat diamankan di kantor kepolisian

Terutama saat spring, peak season turis di negara ini, turis akan berkeliaran di mana-mana, menimbulkan bising, membuang sampah sembarangan, melakukan vandalism dan banyak tindakan lain yang tidak dapat diterima oleh penduduk lokal. Warga bahkan mengeluhkan harus keluar dari rumah sepanjang hari karena sangat terganggu.

Oleh karena itu, beberapa lokasi telah digalakkan program "Silent Visitors", dimana pengunjung diingatkan untuk tidak menimbulkan kebisingan mengingat warga lokal tinggal dan hidup di sana.


Kawasan Pemukiman asli Korea, belum mengalami Gentrifikasi

Efek lain dari gentrifikasi yang tentu diharapkan investor adalah meningkatnya harga properti di wilayah tersebut, hal ini lah yang diantisipasi oleh pemerintah setempat untuk memberikan program 'subsidi' bagi investor UMKM yang ingin memulai bisnisnya di wilayah tersebut. Sehingga wilayah gentrifikasi tidak hanya menjadi milik middle-income yang mulai berdatangan tinggal dan berbisnis disana yang dapat menimbulkan inflasi  harga properti.

Terlepas dari dampak positif dan negatifnya, kembali pada 'fitrah' awal perencanaan kota adalah untuk mensejahterakan dan memberikan kenyamanan bagi warga yang tinggal disana sekaligus memberikan added value bagi pemerintah. Gentrifikasi seharusnya dilakukan secara komprehensif, mempertimbangkan efek-efek yang dapat ditimbulkan dan menyiapkan langkah-langkah antisipasi. 

Untuk menutup tulisan kemana-mana ini, Ihwa Mural Village adalah pemukiman yang unik-dan sangat disarankan untuk menjadi object studi tentang gentrifikasi. Namun apakah bisa disebut sebagai must visit place di Seoul? Mengingat beberapa mural sudah terlihat kusam-dan telah hilang, saya vote masih banyak tujuan wisata lain yang bisa dikunjungi, jika memiliki waktu yang terbatas di Seoul.

Ihwa Mural Village juga tersambung dengan kawasan taman super indah, Naksan Park dan kawasan  konservasi benteng pembatas kota yang mengarah pada gerbang kerajaan di Dongdaemun complex. Jadi jika ingin ke Ihwa Mural Village, saya sarankan untuk terus berjalan kaki mengikuti tembok pembatas kota sampai dengan Dongdaemun Complex atau sebaliknya agar dapat merasakan seluruh 'Korea Experience'.





Comments

  1. Hai ka, saya kebetulan punya antusias tinggi pada kajian interdisiplin yang melibatkan tata kota dan sosioekonomi. Yang saya lihat pada umumnya, gentrifikasi di suatu wilayah miskin itu sama sekali tidak memberikan manfaat yang signifikan pada warga lokal. Karena yang menjalankan perekonomian biasanya warga pendatang yang berlatarbelakang kelas menengah/atas. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah itu pun terjadi pada masyarakat Ihwa Mural Village? Terimakasih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts