Catatan Perjalanan Haji Part II : Ujian kesabaran

Terowongan Menuju Masjidil Haram
10 Dzulhijjah atau Hari puncaknya haji! Setelah semalam kami mabit di Muzdalifah, jam 6 pagi kami sudah dijemput oleh Bus untuk kembali ke tenda di Mina.

Meskipun sebelumnya kami dikasi tahu akan pindah ke Maktab 96, ternyata kami kembali ke Maktab 4.  Saat tiba, kondisi maktab sudah penuh oleh jamaah haji Indonesia yang datang lebih pagi daripada kami.

Jika sebelumnya kami bisa memompa airbed untuk tidur, karena keterbatasan space, kami tidak diizinkan untuk menggunakan air bed. Tiap orang diberi jatah lebar tidur sebesar 30 cm...padahal bahu saya saja sudah lebih dari 30cm 😔.

Karena akan segera pergi melempar jumroh, kami hanya menaruh barang di tenda kemudian mengambil wudhu dan segeri pergi ke tempat jumarat. Sekitar 1.5 km dari tenda, terdapat stasiun kereta Mina 3 yang beroperasi sampai ke stasiun dekat lempar jumarat (jarak antara stasiun dan tempat melontar sekitar 1.5 km). Kereta layang tersebut disediakan khusus untuk mobilisasi jamaah haji dan bebas biaya. Jamaah cukup tapping ID Haji yang ada barcode nya untuk bisa menggunakan kereta tersebut.

Namun, dikarenakan kondisi yang luar biasa penuh dan ketidaktahuan pihak travel, kami berjalan kaki dari maktab 4 sampai ke lempar jumarat yaitu membutuhkan 5.8km , 1x perjalanan.

Kami berangkat sekitar pukul 9 pagi, berjalan kaki dan suhu udara sudah mencapai 39 derajat celcius. Jalanan yang lebar itu dipenuhi oleh jemaah haji berjalan kaki ataupun menggunakan kursi roda. Lautan putih itu berjalan dengan langkah lebar dan sepanjang jalan mengucapkan talbiyah:

Labbayka Allāhumma Labbayk. Labbayk Lā Sharīka Laka Labbayk. Inna l-Ḥamda, Wa n-Niʻmata, Laka wal Mulk, Lā Sharīka Lak.

Bayangkan, saat menonton konser penyanyi favorit atau MotoGp di tribun,bagaimana bersemangatnya kita? Happy dan Pumped up!

Perasaan itu, mewakili sekitar 10% dari perasaan saya saat  berada di kerumunan manusia berbagai latar belakang, usia dan kondisi mengucapkan Talbiyah, rasanya seperti di tengah konser, namun kali ini ratusan kali lebih "ngena". Saya merasakan goosebumps dan mewek seketika (yes, kayaknya waktu Haji saya no days without mewek). Ya Allah, betapa murahNya rejeki yang Kau berikan padaku!

Admittedly, panas memang masih terasa dan menjadi sangat pengap karena lautan manusia berebut mendapat oksigen dari udara. Tapi, rasanya tidak lagi sepanas hari-hari lainnya. Mungkin saat itu endorphin mendinginkan tubuh saya.

Waktu yang terbaik melempar jumroh adalah setelah tergelincirnya matahari (setelah dzuhur) sampai dengan tengah malam. Mengikuti sunnah memang disarankan namun juga perlu diutamakan tentang keselamatan. Kondisi Mina pada saat haji adalah luar biasa padat jadi terkadang jamaah tidak bisa melontar sesuai waktu yang disarankan karena biasanya Muthowif telah membagi jadwal sesuai dengan region / darimana jamaah haji berasaldemi keselamatan masing-masing jamaah.

Pada 10 Dzulhijjah kami melontar pada pagi hari karena sebagian besar dari kami akan meneruskan thawaf ke Masjidil Haram sehingga akan ada waktu kembali ke Mina sebelum tengah malam.

Kami melontar di lantai 3 dan Alhamdulillah tidak terlalu padat. Selanjutnya, rombongan kami dibagi menjadi 2, yang kembali ke tenda Mina atau meneruskan thawaf ke Masjidil Haram.

Karena masih muda dan pede (baca:sombong), saya dan suami memilih meneruskan ke Masjidil Haram dengan pertimbangan berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian atau dengan kata lain biar capek sekalian, ga usah bolak balik.

Bagi jamaah Haji Plus Indonesia, maktab biasanya terletak dalam radius kurang dari 1km dari tempat lontar jumrah, terlebih bagi haji Furoda seperti Maktour, maktab terletak sekitar 200 meter saja. Dari maktab ke tempat lontar, mereka akan berjalan kemudian mereka akan naik bus kembali ke pemondokan di mekkah (apartemen). Beristirahat, kemudian mereka naik bus ke Masjidil Haram untuk melakukan thawaf dan akan kembali ke Mina sebelum tengah malam. Dengan itinerary ini, mereka tidak perlu berjalan jauh.

Namun bagi kami, kami mengikuti ibadah haji yang dilakukan oleh Rosullallah. Dari Mina kami berjalan ke Masjidil Haram bersama jamaah-jamaah dari negara-negara lainnya (saya tidak melihat jamaah haji reguler indonesia, mungkin berbeda jam). Menurut steps tracker, hari itu saya berjalan sekitar 30km, dari maktab 4-melontar- thawaf dan sa'i di Masjidil Haram.

Hari itu, saya menyebutnya hari mukjizat bagi rombongan kami. Kenapa?  karena tidak ada yang tahu darimana kami mendapat tenaga untuk menyelesaikan ibadah hari itu.

Malam sebelumnya kami tidak diberi makan, pagi pun tidak sarapan dan kemudian kami juga melewatkan makan siang karena tidak mau berhenti ibadah di tengah-tengah.

Dengan jarak sejauh itu, dibahan-bakari oleh air minum, kami terus berjalan dan talbiyah. Kalau dipikir logika, seperti tidak mungkin kami masih baik-baik saja!

Sesampai di Masjidil Haram, kami melihat kondisi ka'bah yang luar biasa penuh. Berdesak-desakan, kami melihat kondisinya tidak kondusif terutama bagi saya, perempuan bertubuh mungil.  Akhirnya kami memilih thawaf di lantai 2 yang berarti jaraknya semakin jauh karena diameternya semakin panjang.

Saat itu, hal yang paling membahagiakan adalah melihat lampu hijau yang merupakan tanda bahwa kami telah menyelesaikan 1 putaran thawaf. Tidak ada hal lain yang saya inginkan hari itu kecuali melihat lampu hijau secepat mungkin.

Selesai thawaf, kaki saya mulai rontok karena saat itu saya juga sedang demam gara-gara serangan flu. Saya dan suami sudah terpisah jauh dari rombongan,  akhirnya memilih duduk di tangga sebelum memulai sa'i.

Setelah mengumpulkan tenaga, kami memulai sa'i dan rasanya telapak kaki saya sudah mulai mati rasa. Kami berjalan selambat siput di film Turbo.

Selesai, saya melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Saya berjalan dari jam 9 pagi sampai 3 sore, tanpa makanan sesuap pun. Jika bukan karena izin Allah, saya yakin tidak bisa menyelesaikan ibadah hari itu, itulah kenapa saya menyebutnya mukjizat bagi saya. Bahkan di sepanjang jalan, saya melihat banyak orang pingsan, muntah-muntah atau akhirnya menyerah memanggil kursi roda.

Lorong tempat melakukan Sa'i
 After that, perjuangan kami belum selesai. Kami harus berjalan untuk mencari makan dengan penuh perjuangan. Karena ramai, banyak pintu di masjidil Haram ditutup, jadi kami harus memutar jauh untuk mencapai Zam-zam tower untuk mencari makan.

Belum selesai, kami harus berjalan mencari tukang cukur rambut untuk melakukan tahalul awwal. Seluruh tukang cukur rambut penuh, bahkan menolak karena antrian yang sudah panjang. Saya duduk di pinggir jalan, kosong dan lelah. Dalam kondisi seperti itu, saya berfikir bahwa ibadah ini tidak hanya menguras fisik namun juga mental saya, karena semuanya berjalan sangat lambat, meleset dari prediksi saya. Saya akui, selama ini saya orangnya sangat keras dengan diri saya sendiri jika ingin mencapai sesuatu. Target saya, saya menyelesaikan ibadah jam 3 sore dan akan punya waktu untuk istirahat sebelum kembali ke Mina.

Namun saat itu sudah jam 5 sore dan suami saya masih memutar-mutar mencari tukang cukur. Di situ saya belajar sabar, dan mencoba melepaskan dari self control saya yang terlalu dalam (baca: melepaskannya dengan ngomel ke suami ha..ha..ha).

Short story, saya tiba di apartemen hampir menjelang maghrib dengan drama naik taxi termahal untuk jarak 2 km. Mandi dan sholat, saya berangkat kembali ke Mina.

Perjalanan kembali ke Mina, tidak mungkin kami harus berjalan kembali. Kami mengambil inisiatif dengan naik omprengan. Bersama dengan 9 orang teman lainnya, kami mencegat mobil pribadi dan minta diantar ke titik terdekat dengan tenda kami yang masih bisa dilalui mobil. Kami membayar sekitar 200 riyal yang menurut kami cukup murah dibagi 9 orang. Beberapa teman lainnya membayar sekitar 400 riyal. Kunci dalam menawar adalah dengan mengancam bahwa jika pengemudi mengambil untung terlalu banyak dari orang beribadah,maka dia akan berdosa...ha ha ha..
Kondisi dalam tenda
Kami diturunkan di jalan tol dan harus berjalan sekitar 1.5 km sampai tenda. Namun 1.5 km rasanya seperti 200 meter  karena siangnya kami membabat 30km. Sesampai di tenda, kami harus menghadapi kenyataan bahwa tenda super full bahkan ada beberapa mbak-mas yang ga kebagian tenda. Beberapa orang tidur di luar, bahkan ibu hamil 😞😞.

Jamaah diperbolehkan mengambil 2 pilihan untuk tinggal di Mina yaitu Nafar tsani atau Nafar Awal. Sebagian besar jamaah Indonesia memilih Nafar Awal yaitu berarti 3 hari mabit di Mina dan 3 kali melontar jumrah. Satu kali (7 kerikil) pada 10 dzulhijjah,  21 kerikil pada 11 Dzulhijjah dan 21 kerikil pada 12 Dzulhijjah sebelum meninggalkan Mina.

Sementara rombongan kami memilih Nafar Tsani yaitu tinggal 1 malam lebih lama sampai 13 Dzulhijjah dan menambah 1 x melontar.

Selama 11-13 Dzulhijjah kami tidak kembali ke Apartemen namun setelah melontar kami langsung kembali ke tenda (mampir juga sih di Al-baik Mina), dengan  jarak1 kali pp dari maktab ke tempat melontar sekitar 10km. Kami juga tidak memanfaatkan moda kereta karena mendengar dari teman-teman, membutuhkan jalan memutar dan pada suka tersesat.

Tantangan selama tinggal 3 hari di Mina pun juga sangat bervariasi. Dari antrian toilet panjang, perebutan tempat tidur sampai tidak ada pasokan makanan pagi dan malam dari pihak travel.

Kisah toilet menurut saya paling lucu. Berulang kali saya bilang bahwa jutaan manusia di sana dengan karakter dan background berbeda, membuat kita akan mengingat kembali jaman jambore masa SD-kali ini lebih lucu.

Banyak jamaah perempuan yang tidak bisa antri saat menggunakan toilet, ada juga yang mandi di tempat wudhu, ada pula yang pipis di tempat wudhu.  Jika ditegur, mereka akan lebih galak daripada yang negur. Banyak alasan untuk tidak antri dan tidak mau kena kencing batu paling populer.

Kondisi toilet pun kotor. Banyak yang membuang barang-barang pribadi perempuan di dalam bilik kamar mandi instead of tempat sampah. Jadi, kalau tidak terpaksa banget, saya tidak akan menggunakan kamar mandi.

Hal yang agak menantang sebenarnya ketika sebelum tahalul awal, ketika dalam keadaan haram, diantara perempuan juga harus menjaga aurat. Tidak sehelai rambutpun boleh terlihat meskipun di depan perempuan lainnya. Masalahnya ketika wudhu bersama-sama, kaki juga akan terlihat oleh jamaah lainya. Sementara bagi laki-laki tidak boleh menutup kaki bahkan saat tidur, yang berarti tidak diperbolehkan memakai selimut.

Namun setelah tahalul awal, tantangan selanjutnya adalat battle of toilet. Bagi rombongan kami, tantangan tambahannya adalah us vs hunger karena travel agent punya cara unik untuk berkelit memberi kami makan pagi dan makan malam. Tak jarang, kami mendapatkan nasi kotak dari jamaah Indonesia out of empathy. Satu nasi kotakpun bisa kami bagi bertiga sampai berempat. Alhamdulillah. 

Jamaah Indonesia baik reguler dan plus pun mendapat previllage lebih dari pemerintah Indonesia. Katering masakan indo yang lumayan sedap, petugas medis yang selalu siap sedia di tiap embarkasi sampai dengan banyaknya petugas Indonesia yang berjaga untuk mengarahkan jamaah jika tersesat atau bingung. 


Selama di Mina, kami memperbanyak ibadah, membaca Alqur'an dan menjalin silaturrahim dengan mbak-mbak dan ibu-ibu serombongan kami. Karena travel agent Haji kami punya presence di Korea, Hong Kong dan Jepang, jadi saya bertemu banyak orang dengan background berbeda. Ada warga negara hong kong yang menjadi ceo perusahaan export import, ada tenaga kerja wanita yang pergi dengan bos laki-lakinya yang baru saja mualaf, ada perawat yang selalu membimbing pasiennya (orang jepang) mengucapkan syahadat pada saat sakaratul maut, ada  juga mantan ceo yang menikah dengan warga negara Korea. Ada yang termuda, ada mahasiswi, ada juga ibu-ibu usia lanjut yang terlihat lemah namun sangat kuat.

Lantai Dasar tempat Melontar

Saya mendengar berbagai macam kisah hidup yang menginspiratif, bagaimana perjalanan mereka untuk bisa haji atau berada di negara tempat kami tinggal sekarang. Begitu mudah kami bersahabat seolah seluruh prejudice yang selama ini menjadi tembok hilang tanpa batas.

Korea adalah negara dimana kamu memperhatikan how do you look and where are you come from. Berada di tenda itu, kami sama sekali melupakan semua itu. Seorang hafiz Alqur'an yang tidak menatap saya dari apa yang saya pakai atau dari kegemaran saya.

Betapa indahnya persahabatan yang ditawarkan oleh Islam di sana. Kami tidak bicara politik, tidak ada tatapan dari atas ke bawah dan tidak ada yang sedang menyebarkan keyakinan ekstrimisme di sana. Di sana kami semua berteguh pada:

" Lakum dīnukum wa liya dīn 
Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Referensi: https://tafsirweb.com/37398-surat-al-kafirun.html

Saya ingat waktu mahasiswa baru, terdapat satu kegiatan mentoring dimana saya dan teman saya selalu kabur saat itu. Jiwa muda saya memberontak hanya karena salah satu senior menjudge saya karena rok pendek yang saya kenakan. Dia serta merta memberi label saya tanpa mengetahui kepribadian ataupun dasar agama yang saya miliki, sementara saya menyama-ratakan bahwa semua senior di kegiatan mentoring memiliki pemikiran sama dengan senior judgy.

Well, hal inilah yang banyak saya ingat ketika perjalanan haji. Flashback tentang bagaimana saya bisa menjadi sekarang. Kekurangan, kesalahan, kesembronoan yang seharusnya bisa dihadapi dengan bijak.  Allah yang maha pemaaf telah memberi saya kesempatan yang luar biasa luas untuk melihat kembali diri saya yang dahulu dan Insya Allah mengingatkan saya agar menjadi manusia yang lebih baik.

Kembali ke melontar jumroh, Pada tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah, saya memilih mengikuti sunnah yaitu melontar setelah matahari tergelincir. Namun sayangnya waktu tanggal 11 dzulhijjah, hujan deras kembali melanda Mina. Karena banyak saluran yang tersumbat sampah, air hujan mulai menggenang di jalanan meskipun tidak sampai masuk tenda.

Jalanan setelah melontar pada sebelum Maghrib
12 Dzulhijjah setelah hujan lebat
Ba'da Ashar, ketika puncak panas
Melontar ketika matahari terbit
Selama beberapa jam, jalanan di tutup menuju ke tempat melontar dan kami baru bisa melakukannya pada ba'da maghrib. Dan karena masih pasca hujan, banyak jalan yang ditutup, akhirnya kami harus memutar agak lumayan jauh malam itu. Untungnya, sebelum kembali ke tenda, kami mengisi bahan bakar dengan nugget Al-baik.

Jamaah Al Baik

Di 12 Dzulhijjah, banyak jamaah yang memilih Nafar awal yang berarti bahwa tempat melontar akan sangat penuh setelah ba'da dzuhur. Kami saat itu salah strategi karena melontar di lantai dasar yang biasanya lebih disukai karena paling dekat. Desak-desakan, semua orang berjuang untuk berada paling dekat dengan tembok. Saling menginjak kaki, dorong-dorongan. Bagi manusia mungil seperti perempuan Indonesia, hal ini sangat seram karena dijamin lebih bar-bar daripada antrian KRL. 

Saran saya untuk perempuan, lebih baik memeluk erat-erat mahram nya agar tidak terjatuh dan terinjak. Dan berhati-hatilah jika terdapat kursi roda, karena jika tertabrak kursi roda, pasti akan lebam atau berdarah (been there 😹)

(Intermezzo about Mahram, Ustadz saya bilang bahwa orang asia tenggara sering mengartikan muhrim sebagai mahram. Padahal arti sesungguhnya muhrim adalah orang yang sedang ber-ihram). 

Di hari terakhir di Mina, kami berangkat melontar jam 4 pagi karena bus akan menjemput jam 8 pagi untuk kembali ke Makkah, sesuai dengan saran Ustadz kami. Beberapa orang di rombongan kami memilih untuk melempar setelah matahari terbit sesuai sunnah dan tidak ikut bus.

Pada bagian puncak haji ini, saya pikir setiap orang pasti memiliki pengalaman yang berbeda-beda dan sangat personal. Karena itu di bagian ini saya banyak bercerita pengalaman pribadi karena this hopefully shape and improve my self better.

Tantangan-tantangan soal toilet, space tidur mungkin bisa saja kita jumpai saat kita outgoing person yang hobi melakukan camping. Namun bagi saya, pengalaman ini sangat personal karena basically ini tantangan pribadi saya. Saya yang sangat rewel terhadap toilet, diberi fear factor seperti itu dan saya sangat bangga pada diri sendiri, because I passed it without drama. Saya bahkan heran bagaimana bisa tidak snap atau mengeluh selama di sana. 😹

Dan yang paling berkesan adalah bagaimana saya diberi kesempatan untuk merefleksikan diri dengan mudah. Karena jujur, saat dulu mengikut jurit malam atau mengikuti ESQ  terutama ketika diminta untuk merefleksikan diri, pikiran saya blank. Saya tidur nyenyak saat jurit malam, sementara saat ESQ yang lain menangis, saya hanya diam mengamati (oke, saya bebal hahaha). 

Oke, karena sudah sangat panjang, saya akan melanjutkan di bagian III yaitu selama beribadah di Mekkah dan tentu barang-barang yang wajib dan tidak perlu dibawa selama Haji!

To be Continued!!


Selanjutnya : Catatan Perjalanan Haji Part III : Barang yang Wajib Dibawa selama Haji

















Comments

Popular Posts