Motherhood Part 2



Mothering at Disneyland


Whoa, sudah 14 bulan berlalu sejak aku jadi Mama. Kalau dilihat ke belakang, waktu berjalan ngebut apalagi baby kecil yang kemaren cuma bisa oe oe sekarang udah bisa diajak berkomunikasi. Udah beberapa milestones bayi yang terlampaui but do I feel better? how am I actually? Apa yang aku rasakan dan alami selama 14 bulan terakhir sejak menjadi ibu? Apakah membaik dari posting terakhirku?

Well,untuk menjawabnya, aku mau sharing apa yang terjadi dalam hidupku akhir-akhir ini. Menjadi seorang ibu adalah 24 jam dikali sisa hidupku, oke may be 22 hours ( the others two, my baby with my husband). Jadi tidak seperti lembur kerja yang ada fase beratnya, atau ada fase gabutnya. It is mentally, physically full time job.Tugas menjadi ibu selalu berat dari detik ia mengandung mungkin sampai akhir hayat.

(spoiler alert, semua yang kutulis adalah yang aku rasakan, bukan mengeluh atau tidak bersyukur. Tapi sebagai gambaran yang mungkin bisa menginspirasi calon ibu dan bapak yang ada di luar sana. Anyway tulisan ini terjadi karena aku sedang kangen nulis banget).

First Phase : New Born

They say fase new born adalah yang terberat. Sampai detik ini aku setuju, fase itu phisically exhausting dan mentally scaring. Why? begadang selama 1,5 bulan pertama hidup bayiku ditambah unbalance and raging hormones. Pada fase ini, I was scared of everything. Takut pada air panas, pada gunting kuku atau suara cegukan bayi. Seperti untuk pertama kalinya indra keenamku diaktifkan dan otak memprosesnya sangat detail yang berujung pada...overthinking. Sebagai kaum pragmatis, overthinking ini drained my soul. May be that's why a Mom is not cool in front of their kids. She's always overthinking.

Kemudian setelah fase newborn terlewati, kupikir I will slowly get back to myself. I know, baca di artikel somewhere dibutuhkan 7 tahun untuk ibu mulai kembali mengenali dirinya sendiri, tapi aku tidak menyangka kalau cara berfikir otakku menjadi sangat asing bagi diriku sendiri. 

Contoh gejolak internal ditambah faktor kurang tidur adalah endlessly questioning myself, Am I good enough? Am I allowed to feel tired sometimes since I wait for my girl for 9 years! Aku tahu jawabannya, yes I am allowed to feel tired. Buat how long Am I allowed to feel this? Seluruh pertanyaan dan perasaan ‘negatif’ yang muncul selalu kembali pada ultimate answer, I am waiting for 9 years for this, I shall savor every minute of motherhood. 

Aku tidak tahu apakah itu sehat, but I managed.

Anyway kalau ada bapak-bapak yang baca dan pengen tahu rumitnya otak ibu saat merawat bayi kecil di 3 bulan pertama, ini sedikit gambarannya.

I am questioning :  Did i breastfeed enough my baby? From the quality of milk, frequency or how she latch. Even when she gained enough weight, there are millions questions doubting my self. Did I sterilized the bottle pump enough? Why her color of poops are strange? Did i mistakenly eat something that harm her? Why she's not gained any weight? Should I change to formula? I forgot to hold my phone while breastfeeding, am I too close to hold my phone? Will radiation effect her health? 

About latching, it is another level. Itu sakit banget. Seriously. Proses belajar menyusui is painful for me. Walaupun pas hamil aku ikut kelas menyusui, tapi lecet yang nggak abis-abis dan payudara bengkak berkali-kali. It's hurt

During my sleepless night, si bayi yang baru belajar mengenali siang dan malam, tapi belum bisa banyak diajak main pas bangun. I think that was most lonely time. At dawn, when the world is so quiet outside, I saw in the eyes of my baby girl, and questioning, apakah aku sudah cukup membesarkan dia dengan baik? Apakah aku membuat kesalahan hari ini? Seharusnya aku lebih sabar, seharusnya aku lebih kuat, seharusnya aku lebih kreatif. Dan banyak seharusnya yang lain.

Setelah bayiku berusia 3 bulan, aku memang kembali bekerja. Yes, slowly aku mulai merasa kembali seperti ke diriku sendiri. Bertemu teman, sosialisasi, kembali sibuk, ada beberapa kepingan dari diriku yang dulu kembali. Happy but not really. Karena pikiranku selalu kembali ke bayiku, bayiku bersama dengan babysitter dan neneknya, dan aku punya pemikiran sendiri bagaimana merawat anakku. Selama di kantor, kerjaanku jadi ngeliatin cctv, terus pas di jalan pulang sama suami jadi ngeluh terus, ngeluhin bagaimana cara kerja babysitter

Dan ketika bayi sudah mulai aktif bisa berguling, aku seperti baru sadar kalau dia memang individu yang berbeda, bukan bagian dari tubuhku ( I did feel like bayi itu seperti membelah diri dari tubuhku). Dia memiliki keinginan, kemauan, dan preferensi sendiri. Itu yang membuatnya ngangenin sekaligus lucu. Ketika dia mulai menunjukkan ekspresi tidak suka saat kita melakukan sesuatu dengannya. Kerinduan itu yang bikin berat banget berada jauh darinya. 

Akhirnya aku putuskan resign. Menyesal? Engga sama sekali. Karena berbagai alasan yang sudah kupertimbangkan matang-matang, resign emang keputusan terbaik menurutku. Memiliki bayi adalah katalis 20% mempercepat keputusan resign-ku (mungkin akan kubahas lain waktu). Konsekuensinya waktu sosialisasi dengan teman seketika musnah, dan kepingan yang sempat kembali itu hilang lagi.

Nobody told me that being a mother means dealing with loneliness. Walaupun berada di tempat ramai, pikiranku seperti reels instragram yang tidak berhenti memutar berbagai hal, lost focus. Begitu banyak ketakutan baru, seperti kalau aku sakit nanti baby gimana, ato lebih extreme, kalau aku meninggal, baby gimana hidup sama bapaknya aja? 

Have you ever felt that your mind is so crowded but you can’t tell anyone about that? Karena supernova kekhawatiran itu sounds silly when you share it on words with others

I mean, I am worried about my baby get pneumonia because she got choked during drinking water. And everytime she did that, my mind keeps wildering. 

I am too much, I knew it. But I can’t stop. 

That’s a new. Sebagai orang yang selalu praktis dan impulsif (ga pernah berpikir panjang wkwk) , ini menghabiskan sebagian besar energiku.

Ah, ngomongin energi, sometimes i have time but not the energy. Atau sebaliknya, I have energy but not the time. Kebetulan baby tidurnya antara jam 18-19 malam sampe pagi, seharusnya aku punya idle time untuk sekedar nonton drakor ato menulis seperti ini. But trust me, seharian bersama bayi menguras lebih banyak energi daripada ngurusin audit di kantor. I’m overstimulated. Jadi kadang tidur adalah pilihan terbaik (my husband teases me about i slept same duration with my baby).

Kadang aku tidak punya energi untuk online shopping ( tapi sekalinya ada, check out 40 keranjang). Mamaku heran dengan low energy mode seperti ini, katanya dia dulu ga pernah kaya aku, hahaha. So I dont know, Am I alone to feel this way?

Kemudian, hormones. Hormonku masih bergelora dan rasanya aku seperti kembali ke jaman ABG. Moodswing. Kadang, malam rasanya sepi banget dan tiba-tiba menangis for no reason. Kalo kaya gini, biasanya cuma bisa nyiumin pipi bayi yang lagi lelap tidurnya. This raging hormones kadang juga terlampiaskan pada suami. Kalo suami lagi nanyain “ini barang di mana?” Berkali-kali, Wah rasanya pengen ngirim dia ke Mars ha ha ha. Tapi kemudian, tanpa dia aku lebih stress, jadi dijawab dengan judes aja. 

Kalau dibilang usia 3-6 bulan is the easiest, sejauh ini aku setuju. Bayi udah cukup kuat dan bisa diajak maen. Wake Windows lebih panjang, digendong tidak terlalu berat, jadwal tidur sudah teratur, dan mudah ditidurkan karena belum terlalu reog.

 Second Phase : MPASI

Meanwhile, seorang ibu newbie memasuki masa MPASI.

Di sinilah insting seorang Ibu diasah untuk cracking baby code. Kalau belajar menyusui aja susah, apalagi belajar makan yang jenisnya bermacam-macam dari segi tekstur, rasa dan tampilan. Aku tidak akan bahas MPASI homemade vs fortif karena sejak menjadi ibu, we feel guilty everyday jadi aku ga mau nambah guilty dari ibu-ibu lain karena pilihannya. 

Untungnya, di awal MPASI aku memiliki easy baby, dia hampir selalu memakan apapun yang disajikan untuknya.  Sampai umur 10 bulan, gigi pertama sampai kelima muncul bebarengan, disitulah kesabaran diuji. 

Cracking babycode is not easy. Siang ini dia suka makanan dingin, malam dia ga mau makanan dingin lagi. Hari ini dia mau makan brokoli, besok lihat brokoli aja dia udah marah. Belum lagi udah 1 bulan dia menolak makan karbohidrat. 

Lalu ada komen...."Kok anaknya kurus banget sih, kamu gimana sih ngasih makannya?"

Wah.......

Wah......

Wah.......

Seperti yang kubilang, ini adalah masa kesabaran seorang Ibu diuji sampai ke titik darah penghabisan. Sebenernya kasihan lihat bayi yang kayaknya mencoba berkomunikasi ke ibunya, tapi selalu dipahami berbeda.  Tapi, saat hasil masak jam 5 pagi ga disentuh sama sekali itu sungguh ya, menarik nafas berulang kali pun tidak bisa meredakan kemarahan (kekecewaan) pada diri sendiri ini.

Kemudian masalah poop. Who can expect that I am so happy whenever I see my baby poop regularly. I mean, who’s Happy over a human’s poop? Yes, a mother.  Kemudian tiba-tiba ia diare, sang ibu mendadak jadi detektif dan scientist untuk merumuskan makanan apa yang menyebabkan dia diare? Seriously, this is a trial and error game.

Challenge lain lagi adalah SLEEP.

Why nobody told me that sleep is one of mammoth challenge to tackle in babies? So, I learned it later when my baby was 5 months old that they have what is called Wake windows. Seriously, If I knew it earlier, my life would be so easy. Aku inget pas baby several days old, dia selalu kebangun tiap jam 2 Sampe jam 5 pagi. Saking frustrasinya, aku sampe bacain banyak ayat alquran takut dia lagi sawan 🥲, padahal ternyata aku ga cukup bangunin dia saat daylight

Oke, nextbbaby sudah punya jadwal bangun dan tidur teratur. And there come Sleep regression. Ga ada hujan, ga ada angin, tiba-tiba bayi engga mau tidur sama sekali. Maunya guling-guling ato nursing gymnast. Sementara aku adalah tipe orang yang mencintai tidur dengan sepenuh jiwaku. Why you are not sleeping little baby? Sleep depriviation makes Mama cranky, please sleep. 

Dan aku baru menyadari kalau bayi ini untuk jatuh tidur aja belajar. Kebetulan aku memang belum sleep train si baby karena pengen selalu meluk dia saat tidur di masa-masa dia bayi (baca : ga tega buat sleep train), jadi memang aku cari penyakit sendiri.

Jadi, menjadi ibu adalah battle dengan diri sendiri. Meredam amarah, menurunkan ekspektasi, menaikkan ceiling kesabaran yang itu bukanlah hal yang mudah. Meskipun cintaku pada anakku seluas galaxy, tapi deep down, ekspektasi selalu menyelinap dan jadi api yang dengan cepat membakar amarah jika kenyataan berbeda. So yes, this is me against myself.

Tentang Milestone

Every baby is unique, every single human being is unique. But there is milestone guideline buat para orang tua untuk memeriksa apakah bayinya sudah tumbuh dan berkembang sesuai usia. Tapi, akan selalu ada orang di luar sana yang tidak diundang ikutan comment tentang milestone anak. 

“Kok belum jalan? Belum ngomong?” 

Sejak bayi lahir, I know I will love her as she is, tapi hampir setiap minggu aku cek milestone bayi. Dari dia babbling, hilangnya reflek moro, tepuk tangan, merangkak, berdiri, first word, berjalan, berlari, menari, meniru dan lain-lain. Di dalam otakku sudah begitu banyak kekhawatiran tanpa perlu ditambahkan komentar orang lain, “kok bisanya cuma bilang Papa sih?”…..dan kebanyakan yang komen gitu adalah ibu juga.

Menjadi ibu adalah berkawan dengan perasaan merasa bersalah, all the time. Selalu ada pikiran, ‘seharusnya tadi aku’ jika berhubungan dengan anak. Atau second guessing, ‘udah bener ga sih? Nanti kalo salah gimana?’

Ketika berhubungan dengan milestone, rasa bersalah itu hadir di tiap pencapaian dan keterlambatan. Jadi, please komen tentang milestone anak dari orang lain itu, basa-basi yang super basi.

On the Bright side

Tentu saja menjadi Ibu itu tidak melulu tentang tekanan dan lelah karena sesungguhnya begitu banyak kebahagiaan yang hadir di detik ketika anak terlahir.

Tangisan pertamanya yang terdengar di telingaku adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Saat tangisnya terhenti karena ia mendengar detak jantungku, suara yang familiar bağınya adalah Salah satu alasan aku bersyukur telah hidup di dunia ini.

Begitu banyak hal sederhana yang ia lakukan namun hatiku sangat hangat dan bahagia menerimanya. Saat ia menatapku dari kedua bola matanya yang bahkan belum bisa melihat jelas. Saat melihat Ia tersenyum dalam tidurnya bahkan saat ia menyusu dengan lahap, sebuah kebahagiaan. Kadang, terbesit dalam benakku, bagaimana mungkin manusia sekecil ini bisa memberikan begitu banyak kebahagiaan untuk orang tuanya? I am so blessed. 

Dulu, setiap melihat anak kecil digendong dan memeluk tubuh orang tuanya, aku selalu merasa iri. Enaknya, ada manusia lain yang selalu memelukmu dan membutuhkanmu.

Sekarang, aku punya manusia kecil itu, apalagi di usia anakku sekarang yang tangannya sudah bisa memeluk erat leherku, sebuah kebahagiaan yang engga bisa dinilai harganya. Aku hanya bisa bersyukur dan berdoa bahwa sampai usia berapapun, ia tidak pernah ragu untuk memeluk orang tuanya. 

Saat ia tertawa riang ‘hanya’ karena candaan Cilukba, God, I never know that love can be this deep

Dan aku tidak akan bohong bahwa di setiap pencapaian milestone, aku bersorak paling kencang. Karena aku ingin menjadi suporter nya yang paling militan, dan untuk diriku, menepuk dadaku sendiri, ‘I did it even mostly based on my instinct’

Perubahan lain dari motherhood yang paling terasa adalah melembutnya perasaanku terhadap anak. Aku jadi gampang nangis kalau lihat anak kecil lain sedang menderita, apalagi lihat anak-anak Palestina. Aku juga jadi cepat merespon ketika ada anak kecil membutuhkan sesuatu, termasuk anak kecil yang tidak aku kenal. This is strange bagiku karena aku dulunya cuek dengan anak kecil lain. I mean, I love kids and play with them but I have zero idea how to respond if they need anything. 

So, to sum up. I feel better already. That damn baby blues maybe have gone away. I did feel too sensitive sometimes, but I guess it is hormonal since I am still breastfeeding therefore my hormones got confused. I am enjoying my life so much, but that doesn't mean I have no complaints. There are days that I am scared of dying, maybe up until now just because my baby is still a baby. This is new to me, but before that, I barely thought about death. I am beyond grateful, I know now of term that being a mother is a blessing. I love every second of being a mother. 

Okay, this is too long already. Aku akan update Motherhood part selanjutnya along the way, whenever I feel missing writing so much. 


Comments

Popular Posts