Stockholm from the Sea and Land

Stockholm front face


Perjalanan saya ke Stockholm agak berbeda dari perjalanan Eurotrip sebelumnya karena kali ini dalam rangka tugas dinas dari kantor. Sendirian, tanpa suami (yang selalu kebagian baca navigasi, public transport, tempat makan, dan banyak lagi) saya kembali benar-benar mengalami apa yang selalu dibicarakan orang:

"Travelling alone is nothing else but to conquer your own bravery"

Oke, sebenarnya quote itu saya bikin sendiri, tapi pretty much sama artinya dengan famous quote lainnya. 

Perjalanan ke Stockholm saat masih summer (dan mendadak), merupakan tantangan lainnya dalam hal budget. Berangkat dari Frankfurt, Jerman karena saya harus menghadiri seminar di sana, saya naik Scandinavian Airlines (SAS) yang merupakan code sharing flight dengan Lufthansa. Harga tiketnya? Jangan ditanya karena saya beli sekitar seminggu sebelum keberangkatan. Sekitar EUR 400 atau IDR 6 juta lebih! Sedihnya lagi, saya pake drama excess baggage karena muatan maksimal yang diizinkan oleh Lufthansa adalah 23kg dan koper saya sudah berberat 30kg.Akhirnya saya harus amal sekitar EUR33 kepada Lufthansa.

Tiba di bandara Arlanda International Airport sekitar pukul 20.30 dan setelah membaca di internet bahwa jarak bandara ke downtown cukup jauh sekitar 45km, maka saya sudah mengantisipasi bahwa taxi fare akan sangat mahal. 

Ada 3 alternatif transportasi dari Airlanda Airport  ke downtown, yaitu:
  1. Taxi, cepat dan mahal. Karena dasarnya taxi fare di Swedia mahal, maka ongkos dari bandara ke downtown di cap oleh perusahaan taxi. Mereka tidak menggunakan meter atau argo. Untuk mengetahui berapa harga yang harus dibayar, perhatikan sticker kuning di bagian luar pintu penumpang bagian belakang. Biasanya berkisar antara 450-700 SEK atau sekitar IDR 800k- 1.2Mio.
  2. Arlanda Express. Cepat dan less mahal. Arlanda Express merupakan salah satu pilihan terbaik menurut saya. Dengan harga fare sekitar SEK 280 one way atau SEK 550 untuk return ticket. Keluar dari Arrival hall, terdapat beberapa vending machine penjualan tiket Arlanda Express yang tiketnya bisa dipakai saat itu juga. Waktu tempuh kereta cepat ini sekitar 20 menit. 
  3. Flygbuss Stockholm. Lama dan murah. Sekitar SEK 99 dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.
Saat keluar dari Arrival Hall, kita akan tergoda untuk menukarkan uang di Money Changer bandara namun saya sarankan untuk menahan diri karena di Stockholm sangat terbiasa menggunakan kartu (kredit, debit) sebagai sarana pembayaran. Bahkan mereka agak heran saat saya membayar cash. Selain dikenakan commission fee, rate money changer juga kurang kompetitif. Alternatif lain adalah menarik uang di ATM yang ada di arrival hall

ATM di sana agak berbeda dengan di Indonesia karena ATM tidak memiliki brand dari spesifik bank. Seluruh ATM bermerk BANKOMAT yang rupanya merupakan penyedia layanan ATM di Swedia. 

Sebelum keluar dari bandara, saya menyempatkan untuk mampir ke tourist center di bandara dan menukarkan voucher Stockholm Pass yang sebelumnya saya beli melalui internet menjadi Day Pass. Stockholm Pass ini merupakan akses untuk menuju puluhan museum di Stockholm dan menaiki Hop on Hop off bus atau ferry. Untuk 24Hours, saya mengeluarkan kocek cukup dalam yaitu SEK 550 atau sekitar IDR 900K, namun mempertimbangkan begitu banyak museum yang ingin saya datangi maka harga tersebut cukup murah.

Saya kebetulan menginap di Best Western and Hotel, sebuah hotel bintang 3.5 di pusat kota Stockholm. Sama halnya dengan masalah negara maju lainnya, lahan di pusat kota cenderung mahal, maka konsekuensinya kamar hotel saya cukup sempit meskipun saya sudah memesan double bed. Namun saya tidak terlalu kecewa karena design kamar-nya sendiri sangat mencerminkan Skandinavian Style yang praktis, simple dan minimalis. 
Tower Gereja Riddarholmen view dari Bus

Setelah menyelesaikan meeting marathon sekitar pukul 2 siang, saya memutuskan untuk mengaktifkan Stockholm Pass dengan menaiki Panorama Bus. Pick up point Panorama Bus di Gustav Adolf Square pukul 14.30. Panorama bus ini akan mengajak kita mengelilingi bagian terindah dari Stockholm dari deretan bangunan bersejarah, pemukiman, jembatan-jembatan indah hingga pemandangan pinggir laut biru dengan rumah-rumah di bukit. Perjalanan sekitar 75 menit pun sama sekali tidak terasa sambil mendengarkan penjelasan dari headphone yang disediakan gratis pada setiap point of interest.

Bus berjalan cukup pelan sehingga jika kita mau, kita bisa memoto semua object 'face of stockholm' dari beberapa angle. Dari Istana, Gereja tertua, museum, city hall sampai dengan pemukiman tua dari view laut. Atau sekedar memperhatikan apa yang dilakukan penduduk Stockholm pada saat siang hari. Dari lari, bermain skateboard, bersepeda atau sekedar berjalan-jalan dengan anjingnya.

Sampai dengan halte di dekat taman Kungstadgartan, pengemudi bus menginfokan bahwa jika mau, kita bisa berpindah ke tour selanjutnya dengan menaiki ferry, Boat under the bridges untuk melihat kota Stockholm dari arah laut.

Please allow my selfie! Actually this is my first time riding hop on hop off
Jadwal selanjutnya adalah pukul 16.00, sehingga saya langsung meloncat turun menunjukkan Stockholm Pass pada kasir untuk ditukar tiket ferry dan duduk manis di bagian  terbuka ferry sebelah belakang. Ada alasan mengapa sejak bulan Agustus beberapa ferry tour yang ditawarkan oleh Stockholm Pass tidak lagi beroperasi karena udara laut setelah bulan agustus menjadi sangat dingin meskipun masih summer.

Sama halnya dengan panorama bus, di Ferry kita bisa mendengarkan penjelasan sejarah tiap point of interest yang dilewati. Perjalanan dimulai dari sejarah tentang the Grand Hotel Stockholm, sebuah hotel kuno menghadap laut yang sangat populer karena menjadi tuan rumah penyelenggaraan Noble Prize kemudian ferry terus mengalir ke daerah pemukiman penduduk Stockholm, deretan apartemen cantik tempat lahirnya Skandinavian Style, daerah terhijau Stockholm juga merupakan daerah elit dan bangunan-bangunan bersejarah lain.

Dinamakan Boat under the bridge karena boat akan melewati puluhan jembatan-jembatan cantik yang menghubungkan pulau-pulau kecil di Stockholm.

Sesekali, saat narasi sedang jeda, saya menyempatkan mampir ke kantin kapal  membeli segelas coklat untuk menghangatkan badan. Did I told you before? Segelas coklat hangan saat hawa dingin di benua biru adalah salah satu jenis minuman dari surga. Jika sebagian besar orang Eropa sangat menikmati segelas kopi-setiap pagi, setelah makan siang- fikka- dan malam, saya cukup segelas coklat tiga kali sehari. Bahkan saya mencari di supermarket dari Amsterdam, Frankfurt dan Stockholm, saya tidak menemukan coklat instant bubuk dijual disana. Hiks.

Salah satu view favorit saya dari Boat under the Bridge adalah pemandangan Stockholm City Hall dari arah laut.
Stockholm City Hall, salah satu point of attractions terkenal di kalangan turis

Stockholm City Hall dibangun belum terlalu lama jika dibandingkan bangunan bersejarah lain, yaitu tahun 1923. Bangunan ini merupakan tempat Dewan Kota bekerja, memiliki kantor dan ruang konferensi serta ruang seremonial, dan restoran mewah Stadshusk√§llaren.  Tempat ini juga salah satu tempat perjamuan Hadiah Nobel.  


Boat tour ini memakan waktu sekitar 2.5 jam, sehingga saat tour selesai waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 namun matahari belum menampakkan akan tenggelam. Saya memutuskan untuk mengunjungi Gamla Stan, old town yang merupakan icon dari kota Stockholm.

Stockholm Palace
Gamla Stan, merupakan pulau kecil di selatan Stockholm. Menyeberangi jembatan bersama dengan puluhan pedestrian yang lain, saya bisa berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan gedung-gedung indah menghadap ke arah laut. Dari yang paling mencolok adalah Stockholm Palace yang masih ditinggali oleh keluarga kerajaan sampai sekarang, atau sekedar deretan rumah di atas bukit. 

Mungkin terdapat puluhan istana bertebaran di Stockholm, sebagian besar telah beralih fungsi menjadi museum dan open for public, sebagian lagi masih dijadikan tempat peristirahatan keluarga kerajaan, dan sangat susah untuk men-trace satu per satu nama istana tersebut (disamping karena pronounciation-nya yang agak susah diingat). Beberapa istana besar dan mewah, akan saya sebutkan disini karena agak bisa diingat.

Memasuki jalanan berbatu-batu kawasan Gamla Stan, membuat saya tidak bisa menahan diri untuk mulai membandingkan dengan Mala Strana Prague. Frankly speaking, Gamla Stan memberikan suasana dan mood yang berbeda dengan Mala Strana. 

Dibangun di era yang lebih baru, yaitu abad 13. Gamla Stan merupakan deretan bangunan warna warni dengan dekorasi yang lebih sederhana. Arsitektur bangunan di sini  dipengaruhi gaya arsitektur negara Jerman bagian utara. Sempat dihancurkan setelah Perang Dunia kedua, kini tersisa sekitar 370 bangunan yang masih dilestarikan sampai dengan saat ini. 
Stortorget adalah salah satu plaza berbentuk kotak di pusat Gamla Stan, dengan deretan bangunan termasuk diantaranya Noble Museum, sebuah water fontain dan dua gedung ikonik  yang menjadi face of Stockholm.

Stortorget Square

Malam itu, saya tidak sempat mengeksplore lebih banyak Gamla Stan karena matahari mulai turun dan sama seperti dengan belahan kota lain di Eropa, aktivitas kota berhenti setelah pukul 19.00 ke atas. Saya berjalan kembali ke hotel sambil mencari makanan untuk makan malam.

Keesokannya, tujuan utama saya hari itu adalah explore Museum-museum yang ada di Stockholm namun sebelumnya, saya memutuskan untuk mengunjungi Skansen, open air museum atau kebun binatang Stockholm karena dua hal : 1. Saya ingin melihat hewan-hewan yang tidak akan saya temui di Indonesia  2. Melihat bagaimana Stockholm sebelum revolusi industri.

Tidak ingin rugi, saya memakai Stockholm Pass untuk menaiki Hop On Hop Off yang membawa saya ke Skansen. Hari itu, karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa mengunjungi 4 museum berbeda yaitu Skansen, Nordiska Museet, Vasa Museum dan Noble Museum.

1. Skansen- Open Museum
Traditional House Back at 19th centuries
Terletak di sisi hampir paling ujung tujuan akhir Hop On Hop Off, saya tiba di Skansen pukul 10 pagi dan untungnya, museum ini masih cukup sepi.  Dibangun pada tahun 1891, Skansen menawarkan time capsule dimana pengunjung dibawa ke era sebelum revolusi industri. Skansen merupakan potongan-potongan sisi kota seperti Town Quarter, sekolah, herb garden, market street, gereja dan lain-lain. Sementara petugas berpakaian seperti penduduk abad 18-19, pengunjung bahkan bisa berinteraksi dan bertransaksi dengan mereka seperti sedang syuting film klasik.

Travelling alone to Zoo
The Mighty Lynx


Hal lain yang menarik dari skansen adalah koleksi hewan yang pasti tidak kita temui di kebun binatang di Indonesia, atau bahkan Asia. Dari serigala, beruang kutub, elk, wolverine bahkan si cantik Lynx.

Tampaknya, saat saya kesana, saya adalah the only one traveller yang datang sendirian ke Kebun Binatang/Open Museum. Melihat banyak keluarga atau sepasang kekasih/teman di sana, membuat saya sedikit banyak 'kerasa'. Karena langit mendadak mendung dan agak serem mikirin kalo saya hilang diantara pohon-pohon (Dan diserang serigala), membuat saya tidak tenang berlama-lama di Skansen. Sejujurnya, begitu banyak sejarah yang bisa digali, atau sekedar berbicara dengan ibu-ibu yang berperan sebagai 'penjual' roti, namun saya memutuskan untuk pergi setelah 1.5 jam mengelilingi Skansen.

2. Nordiska Museet

Nordic Museum from the sea view
Sekitar 800 meter dari Skansen, dari kejauhan terlihat bangunan mewah, tua dan tinggi berwarna gelap.Saat naik Panorama Bus, mata saya tidak pernah beralih dari bangunan indah itu dan memutuskan untuk mendatangi bangunan itu meskipun tidak masuk dalam itinerary saya.

Nordiska Museet atau Nordic Museum adalah sebuah museum yang memberikan gambaran tentang sejarah budaya Swedia dari abad pertengahan hingga kontemporer.

Pertama kali masuk, pengunjung akan memasuki main hall memanjang dan akan bertemu dengan patung Raja Gustav Vasa sangat besar.

Bangunan museum ini menjadi menarik karena terlihat kontras dari gaya arsitektur sebagian besar bangunan di Stockholm. Tower tinggi di tengah, sesaat mengingatkan pada tipe bangunan katedral dan pengaruh renaissance yang sangat besar- membuat bangunan ini mencolok diantara bangunan yang lain.
Contoh Living room pada masa tahun 1940'an

Sebagian besar koleksi museum adalah budaya-seperti sejarah pakaian yang dikenakan rakyat Swedia, aksesori (hiasan di kepala, sabuk, gelang dan lain-lain), furnitur, design interior dan lain-lain.

Hal yang paling menarik adalah mengunjungi bagian design interior dimana pengunjung akan merasakan datang ke showroom IKEA karena banyak terdapat show case living room dari masa ke masa.

Marie Antoinette, is that you?
Namun, jujur karena saya orang yang cukup penakut jika berhubungan dengan too-human-look alike things seperti Diaroma (badut dan ondel-ondel), waktu saya menginjak lantai 2, dengan kondisi museum yang sangat sepi, saya terpaksa putar balik karena melihat banyak Diaroma pada bagian Fashion.

Overall, museum ini memiliki koleksi budaya yang sangat banyaaaaak, bahkan kita bisa melihat ruangan penuh dengan laci kain-kain unik dan mungkin butuh waktu sekitar 3 jam untuk benar-benar menyelesaikannya.

Karena Stockholm Pass saya hampir expired dan masih ada 1 tujuan lagi, saya memutuskan untuk langsung bergeser ke gedung sebelah, Vasa Museum setelah mengeliling museum sekitar 1.5 jam lamanya.

3. Vasa Museum
Museum ini adalah salah satu museum yang tidak boleh dilewatkan selama di Stockholm-menurut banyak traveler. Vasa Museum adalah museum yang mendedikasikan dirinya untuk menunjukkan detail sejarah tenggelamnya kapal super besar, Vasa yang dibuat di abad 17.

Beautiful Vasa
Selain menampilkan kapal Vasa yang nyaris lengkap, vasa juga menampilkan betapa detailnya riset yang dilakukan terhadap tenggelamnya kapal ini. Dari studi sisa-sisa tengkorak korban tenggelamnya kapal, bagaimana situasi kapal saat itu, proses pembuatannya, hingga peran wanita dalam pembuatan kapal Vasa.

Vasa dibuat atas perintah dari Raja Swedia Gustavus Adolphus sebagai rencana perluasan militer untuk berperang dengan Polandia dan Lithuania (1621-1629).  Dirakit sebagai kapal perang,Vasa dilengkapi persenjataan canggih (dan berat) dan didekorasi sangat mewah sebagai simbol ambisi dari Sang Raja.

Dekorasi heboh Vasa
Secara struktur, Vasa terlalu berat terutama bagian atas rangka kapal. Meskipun masih dalam kondisi tidak stabil, Raja yang terburu-buru menyuruh agar Vasa berlayar di laut dan tenggelam hanya beberapa menit setelah terhempas angin kencang. Vasa tenggelam tidak jauh dari perairan Stockholm dan pada tahun 1950'an, kerangka kapal Vasa perlahan mulai diangkat dan dirakit kembali di museum Vasa. Dari situlah studi tentang Vasa dimulai oleh pemerintah.

 Well,hal yang dapat saya petik dari kisah Vasa adalah terburu-buru dan sembrono adalah hal yang sangat tidak baik (I keep it in my mind to tell my boss about this story).

Keluar dari Vasa, saya melihat jam sudah hampir pukul setengah tiga. Berjalan-jalan sejenak di sepanjang pinggir laut, saya menyempatkan duduk menikmati sandwhich sambil mengamati sibuknya perairan Stockholm. Tidak terlalu lama karena angin laut sangat dingin, saya memutuskan untuk segera menghabiskan 'nyawa' Stockholm Pass saya dengan menaiki Hop On Hop Off dan turun di Gamla Stan untuk mengeksplor daerah tersebut lebih lama.

Setelah itu, saya kembali ke hotel mengambil bagasi dan segera ke airport untuk kembali ke tanah air.
One last Glance of Gamla Stan

Menurut saya, Stockholm terlalu indah untuk dihabiskan selama 24 jam seperti saya. Meskipun di luar dugaan, saya tidak keberatan kembali ke Stockholm untuk mengeksplor tempat-tempat yang belum sempat saya kunjungi, termasuk salah satunya Fotografiska.

Dari sekian banyak tempat yang saya kunjungi, menurut saya tour Boat under the Bridge sangat wajib hukumnya untuk dinikmati selama di Stockholm.

Not enough story? just ask me thru comment section!













Comments

Popular Posts