Catatan Perjalanan Umroh part 3 : Umroh dan Makkah Mukaromah



Keberangkatanku menuju Mekkah dari Madinah ditempuh dalam waktu hampir 7 jam atau sekitar 600 kilometer. Mekkah terletak sekitar 70 kilometer dari Jeddah (1 jam waktu tempuh). Sama dengan perjalanan Jeddah-Madinah, Madinah-Mekkah ditempuh melalui tol dengan padang pasir, dan gunung batu di sepanjang jalan. Jalan tol tersebut sangat lebar dan lancar.
Masjid Bir 'Ali (Depan, Lorong, Plaza)
Karena begitu sampai di Mekkah nanti aku langsung umroh, aku mulai bersiap memakai baju putih-putih, sementara bagi laki-laki memakai baju ihrom (2 helai kain putih tanpa dijahit-tanpa daleman). Miqat (tempat dimulainya ritual haji dan umrah yang telah ditetapkan dalam syariat) dilakukan di Bir ‘Ali yang terletak 11 km dari kota Madinnah.

Bir ‘Ali yang merupakan masjid dengan arsitektur cantik ini merupakan tempat miqat bagi penduduk madinnah atau siapapun yang melewati rute ini.
Aku berhenti di sana hanya sekitar 15 menit dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju mekkah. Di sepanjang perjalanan, karena telah berniat untuk melakukan umroh, kami berdoa di di sepanjang jalan sampai jatuh tertidur (tidak perlu menjaga wudlu walaupun sudah niat). Di tengah perjalanan, aku berhenti di rest area untuk melakukan sholat jama’ taqdim maghrib.


Masjid Al-Haram (kiri). Makkah Clock Tower (kanan)
Aku tiba di Mekkah sekitar pukul 9 malam waktu setempat. Seperti Madinah, Makkah Al-Mukharomah merupakan kota suci bagi umat islam dimana kiblat bagi seluruh umat islam di dunia berada. Berbeda dengan Madinah yang relatif tenang dan lancar, Makkah merupakan kota maju, ramai, dan kadang terjadi kemacetan terutama di musim Haji.
Kota Makkah memiliki kondisi geografis dengan gunung-gunung batu yang mengepung. Karena tanah suci, Batu-batu yang ada di Makkah diharamkan untuk dibawa keluar dari kota Makkah. Sekilas aku melihat dari jauh terdapat pemukiman rapat di antara bukit-bukit berbatu tersebut. Sangat Indah.
Kebetulan hotelku Dar Al Eman Royal Hotel terletak hanya sekitar 20 meter dari gerbang 1 King Abdul Azis Masjid Al Haram.

Hotelku berada di lantai 2 kompleks gedung Makkah Clock Tower yang merupakan landmark bagi kota Makkah, sementara di lantai ground merupakan Mall.

Interior Hote Dar Al Eman Royal Hotel (*****)
Setelah check-in dan makan malam, aku segera melakukan Umrah sekitar pukul 1 malam. Alhamdullillah saat itu keadaan Ka’bah tidak terlalu ramai (tapi tetap ramai). Setelah membaca niat dan doa, aku melalui tawaf yaitu dengan mengitari Ka’bah sebanyak 7x. Saat itu rombonganku terpecah menjadi 2, ada beberapa orang yang berpisah dan mendekati pintu Ka’bah untuk mencium Hajar Ashwad, namun aku tidak mengikutinya. Aku hanya sampai melihat maqom (bukan makam!!) nabi Ibrahim. Maqom merupakan jejak kaki Nabi Ibrahim saat Ia pertama kali membangun ka’bah.
Setelah tawaf, selanjutnya aku melakukan sa’I yaitu berjalan/berlari-lari kecil sebanyak 7x dari padang shofa ke marwah. Sejarah dari Sai itu adalah saat Siti Hajar mencari untuk air bagi anaknya, nabi Ismail dari sepanjang bukit Shofa ke Marwah. Berbeda dengan dulu saat Siti Hajar melintas dari bukit Shofa ke Marwah dimana bukit itu kering, tandus, sepi dan tidak ada air, saat ini antara shofa dan Marwah dilapisi keramik dingin dan atap. Namun ada beberapa bagian bukit itu dibiarkan seperti aslinya, sehingga kita bisa merasakan bagaimana keadaan saat itu.
Sai juga dilakukan sebanyak 7x atau sebanyak 3.5 kali bolak-balik shofa ke marwah.


Saat melakukan Sai, meskipun sudah jam 2 malam lebih, namun masih banyak umat islam yang melakukan umrah. Koridor Sa’I sangat ramai dan penuh, dan masih banyak umat islam yang semangat melakukan umrah (terutama orang Mesir). Jangan dipikirkan Sa’I ini jaraknya dekat. Bukan untuk menakuti, namun saat aku melakukan sa’I, aku kecapaian dan ditambah ngantuk, lantai terlihat bergelombang di mataku. Setelah Sa’I, aku melakukan tahlul yaitu memotong rambut dan selesailah ibadah umroh-ku.
Ka'bah
Setelah kecapekan melakukan umroh, niat awal aku adalah rebahan sejenak di kamar terus kembali lagi ke masjidil haram untuk sholat subuh, namun karena saking capeknya, aku tertidur dan dibangunkan oleh suara adzan subuh dari kamar hotel. Yang kumaksudkan adalah suara adzan dari speaker yang ada di atap kamarku. Speaker itu memancarkan suara Live dari masjidil haram pada saat jam sholat. Dan menariknya suara speaker itu ga tanggung2 kencangnya jadi penghuni mau ga mau bangun selama adzan, iqomat, sholat berlangsung. Untuk kasus Aq, antara sadar dan tidak sadar Aq tidur lagi dan bangun jam 6 untuk sarapan (see how amazing my stomach able to control my mind)
Seharusnya jadwal pagi ini adalah ziarah namun karena terlalu capek, akhirnya hari ini dijadwalkan untuk ibadah mandiri.
Masjidil Haram, berbeda dengan Masjid Nabawi dimana ruangannya tertutup dan ber-AC, sedangkan Masjidil Haram sangat luas dan terbuka / tidak ber-AC. Keduanya beyond beautiful. Keduanya juga diperluas besar-besaran saat pemerintahan Raja Fahd untuk kepentingan umat Islam di seluruh dunia. Arsitek dari pembangunan kembali kedua masjid itu adalah seorang mualaf Jerman, Mahmoud Bodo Rasch. Karena dia berasal dari Jerman, pantas saja jika arsitektur kedua masjid tersebut kurang lebih bergaya eropa.
Di Masjidil Haram pun, umat muslim di seluruh dunia disambut dengan ratusan keran zam-zam yang mengalir secara gratis bagi mereka yang ingin meminumnya. Gelas plastic yang disediakan juga selalu baru.
Apa yang kurasakan menakjubkan dari kedua masjid mewah ini adalah bagaimana terawat, bersih, indah. Bayangkan berapa juta gelas bekas air zam-zam yang dibuang dan gelas zam-zam baru setiap harinya disediakan sementara tidak ada kotak amal sedikitpun. Kemurahan hati, perhatian dari pemerintahan Saudi untuk menyambut umat islam dari seluruh penjuru dunia sangat menyentuh aku personally. It is amazed me. Bagaimana pemerintah arab Saudi terus memperbaiki, membangun infrastruktur terbaik untuk memudahkan umat islam beribadah, menurutku pahala yang luar biasa _. Apreasiasiku sangat besar terhadap Raja Fahd yang memulai perbaikan besar-besaran bagi tempat dan infrastruktur dimana umat islam beribadah baik di Makkah dan Madinah.
Sa'i, Interior  lt 2, Pilar , Atap Masjid Al Haram
Saat akan sholat maghrib, ternyata aku telat pergi ke masjid. Aku baru turun dari hotel untuk ke masjid saat iqomat. Namun sesampai aku di luar, aku terperangah, jalan di depan hotel sunyi senyap, tidak ada mobil berjalan, apalagi manusia, bahkan sebuah mobil pemadam kebakaran berhenti dengan parkir seadanya di depan hotel. Kondisi jalan yang sunyi senyap itu mengingatkan ku pada setting film I Am legend saat Will Smith menjadi satu2nya survivor di kota yang telah diserang Zombie.
Namun dalam kasus ku bukan Zombie..tapi aku menjadi satu2nya manusia telat sholat disitu, karena semua orang bahkan ,di depan lobby hotel maupun di trotoar sedang sholat
Panik, aku segera kembali ke lobby hotel dan baru menyadari bahwa even tamu yg di ruang tunggu juga sedang sholat.Subhanallah ya..di Kota suci Ini semua kegiatan otomatis berhenti ketika Adzan Maghrib dikumandangkan.

Satu lagi yang baru aku notice ketika sholat di Masjidil Haram. Sama dengan di Masjid Nabawi, setelah sholat wajib selalu dilanjutkan dengan sholat jenazah. Saat di Nabawi aku berfikir karena ada makam Rasullallah di sana (oh, poor me for my less knowledge!!!), namun saat di Masjidil Haram aku baru tersadar bahwa sholat jenazah tersebut memang dilakukan karena ada jenazah (baru) di sana. Setiap harinya, selalu ada jenazah yang disholatkan di kedua masjid tersebut (lima waktu). Siapapun yang meninggal,tidak peduli penduduk asli, atau peziarah, namun menginginkan untuk disholatkan di kedua masjid tersebut, maka bisa dilakukan. Bahkan pada saat musim haji, puluhan jemaah haji yang meninggal disholatkan disana tiap harinya. Luar biasa ya, bahkan saat meninggal bisa didoakan oleh jutaan umat islam dari seluruh dunia.

Makkah City Tour

Merpati yang dipelihara dengan baik oleh warga Makkah
Hal pertama yang menarik perhatianku saat di Makkah adalah selain bukit berbatu-batu, namun banyaknya burung dara di mana-mana. Di setiap ruang terbuka, selalu ada ratusan burung dara yang sedang makan. Seolah makanan selalu tersedia di sini, in fact makanan burung dara memang disediakan oleh seluruh penduduk di kota Makkah. Bahkan di rumah-rumah penduduk dibangun tempat-tempat untuk makanan di atap. Ya, sekali lagi aku ternganga dengan apa yang ada di kota Makkah/ Madinah ini.
Jadwal pertama City Tour ku adalah melewati Jabbal Tsur, yang merupakan sebuah bukit yang sangat tinggi berbentuk punggung Tsur (read:kerbau) yang merupakan tempat berlindung Rasullallah bersama dengan sahabatnya Abu Bakar Asy Sidiq dari kejaran kaum kafir Quraisy. Selama mereka bersembunyi, yang bertugas untuk mengirimkan makanan ke atas bukit (yang saat ini untuk naik ditempuh dalam waktu 1,5 jam) adalah Astma binti Abu Bakar, putri dari Abu Bakar yang saat itu sedang hamil besar. Seorang wanita hamil besar mendaki bukit sambil menghindari kejaran kaum kafir? Astma pastilah wanita islam yang sangat kuat dan pemberani (see, bagaimana wanita juga berperan pada perkembangan islam saat itu).
Beranjak dari Jabal Tsur, kunjungan berikutnya adalah Jabel Al Rehmah, bukit yang dipercaya tempat bertemunya Nabi Adam (yang diyakini saat itu diturunkan oleh Allah di India) dengan Hawa (yang diyakini diturunkan di Jeddah) pertama kali. Karena menjadi tempat bertemu, dan dibangun monument di situ, tempat ini diyakini menjadi tempat untuk berdoa kepada Allah untuk dimudahkan bertemu jodohnya. Tidak ada hadist ataupun ayat yang mengungkapkan hal ini, karena itu aku tidak memanjatkan doa disana _ dan lagi bagiku terasa aneh karena saat melihat monument tersebut dicorat-coret nama-nama orang yang diharapkan menjadi jodoh bagi sang pencoret. Saat di sana, aku melihat beberapa orang Indonesia sedang khusyu dan menangis memanjatkan do’a. Hmm..My lips are sealed.

Tunnel di Makkah (hundreds), Jabbal Tsur (punggung kerbau), Jabel Al Rehmah
Di Jabbel Al Rehmah, aku juga bertemu dengan banyak pengemis anak yang kehilangan tangannya. Ya, kehilangan tangan. AKu tidak bisa tidak berfikir bahwa anak-anak itu kehilangan tanggannya karena telah mencuri dan dihukum qisas. Ya, memang miris sekali.
Setelah dari sana, kemudian aku mengunjungi tempat dimana ibadah haji dilakukan pada saat tanggal 8-10 dzulhijjah yaitu Mina, Arafah dan Muzdalifah. Pada 8 Zulhijah, jamaah haji bermalam di Mina. Pada 9 Zulhijah, pagi harinya semua jamaah haji pergi ke Arafah. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang luas ini hingga Maghrib datang. Ketika malam datang, jamaah segera menuju dan bermalam Muzdalifah. Pada 10 Zulhijah, setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina untuk melaksanakan ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolisasi mengusir setan. Setelah mencukur rambut atau sebagian rambut, jamaah bisa Tawaf Haji (menyelesaikan Haji), atau bermalam di Mina dan melaksanakan jumrah sambungan (Ula dan Wustha).

Mina (atas kiri), Masjid Musdalifah (atas Kanan), tempat Jumroh (bawah)
Saat ini Pemerintahan Arab Saudi sedang sibuk membangun jaringan monorail di daerah Mina, ARafah untuk memudahkan jemaah haji saat melakukan ibadah haji. Kontraktor pemenang tender monorail ini berasal dari China sementara Mina dan Arafah merupakan termasuk tanah haram. Alhasil, banyak dari orang China tersebut akhirnya menjadi mualaf. Alhamdulillah ya _.
Setelah dari sana, aku pergi ke Al-Jiranah untuk melakukan Miqat ibadah umrahku kedua. Sebelum miqat, aku diingatkan untuk tidak bermain-main dengan niat umroh keduaku (sunnah) karena jika sudah berniat namun berubah pikiran, maka diwajibkan membayar dengan satu ekor kambing, dan kewajiban umrohnya pun harus tetap dilakukan. Well, Alhamdulillah aku berhasil melakukan umrah keduaku.
Setelah umrah, aku putuskan untuk berbelanja dimall dekat hotel. Di sana banyak toko-toko pusat souvenir dengan harga seragam untuk semua barang, yaitu 3 Riyal. Let’s Grab it!!!!!
Wait, catatan perjalananku belum selesai, catatan berikutnya akan dilanjutkan pada catatan terakhir-part 4 untuk menjelajahi kota Jeddah.

Comments

Post a Comment

Popular Posts