The Dark Side



Aku selalu menemukan kesulitan untuk membaca maksud tersembunyi seseorang di balik kata-katanya. Masalahnya, aku terlalu mudah percaya dengan makhluk bernama manusia. Jika seseorang mengatakan A, maka aku percaya dia sedang mengatakan A, bukan Z atau X yang merupakan turunan dari A.

Mungkin, jika aku cowok, dan punya cewek yang sangat terkenal dengan kemampuan dalam 'permainan kata-kata'nya...I give up in second..so frustrating.

Eh, kali ini aku tidak ingin membahas tentang 1000 makna dibalik kata-kata seorang cewek kepada pasangannya, namun tentang orang yang memiliki bakat luar biasa sebagai siluman ular dengan lidah bercabang dua,,,heuheuheu....Someone who said opposite of her/his heart.

Dunia kerja, as we know, sangat berbeda dengan dunia-dunia yang pernah kita tempati. Jika dulu kuliah atau sekolah kita punya satu teman yang menyebalkan seperti tukang ngadu, maka kita hanya bisa memiliki satu cara memperlakukannya yaitu mengasingkannya, membiarkannya hidup bersahabat dengan dirinya sendiri. Namun ketika kita kerja, bukan lagi tukang ngadu yang kita hadapi, tapi two faced ah may be million faced people yang mau tidak mau, tidak bisa kita ignore begitu saja.
Konsekuensi dari tumbuh dewasa adalah pengetahuan, pengalaman, dan perasaan kita yang bertambah. Sangat tidak mungkin mengasingkan seseorang yang merugikan kita di tempat kerja. Ada namanya courtesy_yang telah kita pelajari baik-baik dari kita hidup dan merupakan warisan kebanggan dari orang tua kita. Ada namanya jobdescription yang somehow betapa menyebalkan seseorang, mau tidak mau masih kita butuhkan untuk mengerjakan pekerjaan yang lain untuk mendukung pekerjaan kita. Dan ada namanya conflict of interest, seseorang yang memiliki seribu wajah, biasanya sangat dekat dengan bos. Dia adalah pemegang juara gaya katak, kepada atasan dia menyembah, kepada bawahan dan yang setara dengan dia, dia menyingkirkan. Sehingga menyingkirkannya sama halnya dengan melempar boomerang.
jika salah satu saja dari 3 'latar belakang' itu ada, maka kita tidak bisa simply mengabaikan si siluman ular, demi kemaslahatan umat. In other words, ya..mau ga mau kita harus menerapkan office politics (one thing that I hate the most).

Sesungguhnya kenapa aku menulis ini karena: di kantor ada seorang yang sebenernya sudah berada di middle management, namun hobi nomor satunya adalah memutarbalikkan fakta dan membumbuinya dengan drama. Mungkin dia bercita-cita menjadi produser jadi setiap fakta akan menjadi drama yang melibatkan konflik dan pertikaian.
Karena aku adalah aku, tidak pernah terlintas dalam benakku bahwa kata-kata manis yang keluar darinya merupakan pemutar balikan fakta yang ada. Meskipun banyak rekan kerja yang memperingatkan untuk stay away darinya (untuk keamanan diri sendiri), namun aku tetap bergeming karena berhubungan karena alasan pekerjaan, dan tidak sedikitpun terlintas pikiran buruk dia akan menjadikanku obyek gossip utamanya. Who am I anyway?no one that won't draw any ineterest from bosses. Sampai akhirnya terjadi klimaks, bahwa seluruh kesalahannya menjadi cerita heroik dan menumpahkan kesalahan padaku...tiba-tiba aku berubah menjadi manusia super saiya.
Curhat ke bosku, menumpah segala uneg-uneg dan begonya, aku baru tersadar bahwa dalam dunia pekerjaan, kadang kita harus memiliki topeng untuk melindungi hati kita. Tidak boleh bekerja dengan perasaan, hanya hati. Topeng itu hanya akan kita pasang ketika kita tidak bisa mengendalikan emosi daripada menjadi backfire. Topeng wajah tenang.
Tak pernah terlintas di otakku akan ada manusia yang bipolar antara apa yang ia tunjukkan dengan apa isi hatinya. Kenyataanya, seperti kata Bosku, setiap manusia memiliki sisi gelap dalam hidupnya. Keburukan manusia selalu memilikinya, namun pilihannya-lah dimana ia menyimpan keburukan itu. Apakah perlu ia bebaskan dan menjadi manusia yang benar-benar hitam? Atau memilih memenjarakannya dengan hati-hati, melawannya dengan sekuat tenaga?
Aku percaya manusia tidak sempurna, namun aku juga percaya bahwa manusia berbuat jahat kepada orang lain lebih dikarenakan keadaan yang mendesak. Bahwa sesuatu yang 'hitam' di manusia bukanlah 'given', ada dalam DNA-nya, terlahir bersama sifat itu dan hanya pengendalian diri yang bisa menekannya.
Sekali lagi aku naif, namun melihat bahwa ada seseorang yang menjahati manusia lain tanpa desakan keadaan, dan melakukannya karena hobi, sebuah kebiasaan, kini aku kembali mempertanyakan konsep 'hitam' yang selama hidup ini kumiliki.
I never believe that someone do bad thing for pleasure purpose. Do I?
Inilah proses pendewasaan (atau 'urban'isasi) yang paling tidak kusukai, ketika kepercayaanku kepada manusia harus kupertanyakan kembali.
Still I got confuse....

Mungkin kamu akan suka ini :


- Posted using BlogPress from my iPad

Comments

Post a Comment

Popular Posts